Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Win in the flat world championship

Win in the flat world championship
 
  1. Depth of friendship does not depend on length of acquaintance. (Rabindranath Tagore)
  2. A single rose can be my garden… a single friend, my world. (Leo Buscaglia )
  3. You May Be One Person To The World But You May Be The World To One Person. (Anonim )
  4. If you judge people, you have no time to love them. (Mother Teresa)
  5. There is only one happiness in life, to love and be loved…. (George Sand)

Bintang

Kalau kau lihat langit yang cerah
Disitu ada aku
Kalau kau bayangkan bintang itu indah
Maka bayangkanlah aku.
Aku bintang dalam kegelapan malam
Yang benderang di kala kesunyian malam
Tapi terkadang aku juga dapat menghilang
Ketika malam tak kunjung datang..
Coba kau lihat mengapa langit malam ini cerah
Dan awan yang berarak menghilang
Indah bukan
Kemegahan mahkota malam..

Andai kau tahu betapa bintang itu indah
Dan matahari selalu mengawasi dari kejauhan malam

Aku melihat bintang dari diri seseorang
Yang menjadi matahari kala panas tak jua datang
Yang menjadi bulan ketika langit tak berhiaskan bintang
Dia juga bintang dilangit hati semua orang
Dan juga menjadi bintang dalam kesunyian para malaikat..

By : Kartika Handayani

Jeritan Anak Jalanan

Di kolong-kolong jembatan aku..
Bersenandung mengharap belas kasihmu..
Pandanganku yang kian hampa..
Sesuap nasi pun tak kunjung tiba..
Melihat mu aku tak peduli..
Bukan wakil rakyat tikus berdasi..
Aku memang mlarat..
Bukan seperti tikus keparat..
Yang doyan uang rakyat..
Haus harta bak lintah darat..
Masih terdengar jeritan dan tangisan..
Dari anak kolong jembatan..
Kau butakan matamu..
Kau tulikan telingamu..
Takut kehilangan harta itu sifatmu..
Takut kehilangan kehormatan pun sifatmu..
Kau lebih rela korbankan rakyat..
Hanya demi se onggok martabat..
Kau picik..
Kau pun licik..
Di kolong jembatan aku..
Di jalanan kukais keberuntunganku..
Kau tak datang aku bangga..
Tak mengenal mu pun aku lega..

by : Noor M.A 
Dikutip dari : http://www.bangfad.com/sastra/jeritan-anak-jalanan.html

Pantun Koruptor

Sedikit untaian kata-kata yang di racik oleh salah seorang maestro puisi Indonesia untuk para koruptor yang telah lama malang melintang dan bersenang-senang, masih tetap nyaman, aman dan tentram bahkan menjadi selebritis terkenal dalam waktu singkat.... Pertanyaan dari lubuk hati yang paling dalam, kenapa masih sangat, terlalu, amat banyak kasus yang belum terselesaikan? apa memang sengaja diundur-undur terus dilupakan ? atau sedang negosiasi perdamaian ? atau takut kalau diteruskan dan terbukti, akan ada banyak orang penting lainnya yang ikut terseret ? huffttt.....
Ok,,, berikut ini puisi dari W.S Rendra untuk YTH, Bpk / Ibu Koruptor Indonesia.

Kalau ada sumur di ladang
Jangan diintip gadis yang mandi
Koruptor akalnya panjang
Jaksa dan hakim diajak kompromi

Berburu ke padang datar
Mendapat janda belang di kaki
Koruptor sakit diijinkan pesiar
Uang rakyat dibawa lari

Berakit rakit ke hulu
Berenangnya kapan kapan
Maling kecil sakit melulu
Maling besar dimuliakan

Ur… Ur… Ur… Ur… Bada Ur…
Selendang sutra jingga
Aturan negara ngalor ngidul
Lantaran wakil rakyat korupsi juga

Hio… Hio… Hio… Hio…

Kura kura dalam perahu
Buaya darat didalam sedan
Wakil rakyat jangan ditiru
Korupsinya edan edanan

Si tukang riba disebut lintah darat
Si hidung belang disebut buaya darat
Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
Mereka yang berhutang yang bayar lha kok rakyat?

Binatang bego itu kura kura
Binatang lamban juga kura kura
BBM naik rakyat sengsara
Uang bea cukai ditilep juga

Aduh aduh cantiknya si janda kembang
Sedang menyanyi si Jali Jali
Hujan emas di rantau orang
Hujan babu di negeri sendiri

Hio… Hio… Hio…
Ale… Ale… Ale…
Bakso… Bakso… Bakso…
Onde… Onde… Onde…

Mikul duwur mendem jero
Itu apa artinye?
Artinye…
Kalau ente jadi presiden
Berdosa boleh aje…..

Antara Olah raga dan Budaya

Bila berbicara mengenai olahraga, maka kita menyadari bahwa ada bermacam-macam cabang olahraga yang bisa dipilih dan berkomitmen untuk menekuninya. Ada olahraga modern yang cara dan aturannya akan berbeda dengan olahraga tradisional yang masih minim baik dari tata cara bermain dan aturan-aturannya. Ada juga olahraga yang dirancang dan dilakukan untuk melatih kondisi fisik atau otot para pelakunya, ada pula yang dibuat untuk menstimulasi kesegaran rohani atau psikis dan merancang kerja otak. Maka perlu kita ketahui beberapa macam olahraga yang ada.

Berdasarkan masa terdiri dari pertama olahraga modern. Dalam lingkup ini, olahraga yang dimaksud modern adalah olahraga yang telah resmi, baik secara aturan permainan dan alat yang digunakan bermain di seluruh negara. Dan secara internasional, cabang-cabang olahraga modern ini tidak bisa diubah salah satu atributnya tanpa perubahan dari induk-induk organisasi olahraga dunia terkait. Beberapa cabang olahraga modern misalnya: anggar, angkat besi, bulutangkis, catur, golf, loncat indah, menembak, sepak bola, tenis, tinju dan lain-lain. Kedua, olahraga tradisional. Sejauh ini hanya di Indonesia yang mengenalkan jenis olahraga tradisional kepada publik dalam negeri. Yang dimaksud tradisional adalah jenis olahraga yang timbul berdasar permainan dari masing-masing suku dan etnis yang ada di Indonesia. Dan cabang ini tidak semuanya dilombakan baik secara nasional maupun internasional. Adapun cabang-cabang di dalamnya adalah: sepak takraw, pencak silat, karapan sapi, egrang, dan lain-lain.

Berdasarkan organ tubuh terdiri atas pertama Olahraga fisik atau otot. Sesuai dengan porsi latihan yang dilakukan, olahraga fisik atau otot ini lebih menitikberatkan pada ketahanan fisik dan kekuatan otot pelaku dimana sebelumnya mereka telah berlatih membentuk ketahanan dan kekuatan tubuh di masing-masing cabang olahraga ini. Banyak contoh dari olahraga ini yang banyak digemari, salah satunya binaraga. Dimana pelaku diharuskan berkelanjutan memperkuat otot dengan kombinasi olahraga angkat besi, lari, dan diimbangi dengan makanana bernutrisi. Namun secara umum, olahraga jenis ini tentu saja akan menguras banyak tenaga. Tapi tidak diperbolehkan penggunaan obat bantu untuk menambah ketahanan. Karena pengkonsumsian obat tersebut sama saja dengan pemforsiran fungsi kerja tubuh. Kedua, olahraga psikis. Sejak awal, cabang-cabang olahraga psikis atau olahraga otak ini mengindikasikan latihan untuk memperbagus fungsi kerja otak. Baik dari segi berpikir strategi maupun tingkat kesabaran pemain. Cukup sedikit cabang olahraga otak ini. Beberapa yang terkenal adalah catur yang banyak diminati karena pola permainannya yang mengandalkan pemilihan strategi menyerang dan bertahan juga melatih kesabaran pemain. Ada pula memancing yang menstimulasi tingkat kesabaran juga adrenalin para peminatnya.

Karakteristik posmo dalam pengembangan ilmu adalah karakteristik sikap ilmiah dalam memaknai perubahan sosial masyarakat. Untuk memahami laju percepatan perubahan sosial yang luar biasa membuat kita perlu mencari terus filsafat, teori, dan metodologi pengembangan ilmu yang tepat. Di samping itu mengenai karakteristik posmo tidak hanya untuk mengubah sikap ilmiah, melainkan juga dimasudkan agar substansi telaahannya dikenal baik, dan selanjutnya diolah dengan lebih baik. Studi Geertz di Pare yang disamarkan dengan nama Mojokuto membagi masyarakat menjadi priyayi, abangan, dan santri mendapat kritik para fungsionalis (yang positif modern), sebagai sinkretis, dengan kesimpulan mengarah ke marginalisasi peran Islam, dan dimaknai bahwa Islam itu tidak berbahaya. Tetapi interpreti Geertz tentang priyayi, abangan, dan santri juga mendapat kritik dari ilmuwan Muslim sekarang, dengan mendekontruk paradigma yang dipakai Geertz, menampilkan peran aktif dan signifikan Islam.

Konsep Posmo pertama kali muncul di lingkungan gerakan arsitektur. Arsitektur modern berorientasi pada fungsi struktur; sedangkan arsitektur posmo berupaya menampilkan makna simbolik dari konstruksi dan ruang. Sepeti dikemukakan oleh Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir dalam bukunya Metode Penelitian Kualitatif (2000:236) bahwa benang merah pola fikir modern antara lain: yang rasionalistik, yang fungsionalis, yang interpretif, dan yang teori kritis: yaitu dominannya rasionalitas. Dalam komparasi dapat dijumpai: yang positivist membuat generalisasi dari frekuensi dan variansi, yang interpretif membuat kesimpulan generative dari esensi; yang positivist menguji kebenaran dengan uji validitas, yang interpretif menguji thuthworiness lewat triangulasi. Tradisi ilmu sampai teori kritis masih “mengejar” grand theory. Logika yang dikembangkan dalam berilmu pengetahuan masih dalam kerangka mencari kebenaran, membuktikan kebenaran, dan mengkonfirmasikan kebenaran.

Sejumlah ahli mendeskripsikan posmo sebagai menolak rasionalitas yang digunakan oleh fungsionalis, rasionalis, interpretif, dan teori kritis. Namun Muhadjir (2000:237) berpendapat bahwa Posmo bukan menolak rasionalitas tetapi tidak membatasi rasionalitas pada yang linier, tidak membatasi pada yang standar termasuk yang divergen, horizontal, dan heterarkhik tetapi lebih menekankan pada pencarian rasionalitas aktif kreatif. Bukan mencari dan membuktikan kebenaran, melainkan mencari makna perspektif dan problematis; logikan yang digunakan adalah logika unstandard menurut Borghert (1996), logika discovery menurut Muhadjir (1982), atau logika inquiry menurut Conrad (1993).

Rasionalitas modernist yang ”mengejar” grandtheory dan jabarannya, ditolak oleh posmo.

Posmo menggantinya dengan perbedaan (differences), pertentangan (opposites), paradoks, dan penuh misteri (enigma). Dalam pola pikir era modern, kontradiksi intern merupakan indikator lemahnya suatu konsep atau teori. Dalam era posmo kontradiksi baik intern maupun ekstern menjadi suatu pola fikir yang dapat diterima. Untuk mengembangkan pola fikir spesifik posmo adalah Postpositivistik Phenomenologik-Interpretif Logik dan Etik, misalnya berupa model Interpretif Geertz, Grounded Research, Ethnographik-Etnometodologik, Paradigma Naturalistik, Interaksionisme Simbolik dan Model Kontruktivist.
Tata fikir spesifik posmo adalah: kontradiksi, kontroversi, paradoks, dan dilematis. Posmo lebih melihat realitas sebagai problematis, sebagai yang selalu perlu di-inquired, yang selalu perlu di-discovered, sebagai yang kontroversial. Bukannya harus tampil ragu, melainkan harus memaknai dan selanjutnya in action. In action-nya kemana? Ber-action sesuai dengan indikator jalan benar. Yang benar absolut dimana? Bagi sekuler: benar absolut adalah benar universal, benar berdasarkan keteraturan semesta. Keteraturan semesta sampai millenium ketiga pun masih banyak yang belum terungkap.

Baru saja teramati bagaimana suatu galaksi terbentuk, baru saja teridentifikasi DNA sebagai intinya gen yang diturunkan, dengan diketemukannya struktur setiap sesuatu dapat dikembangkan tiruan berupa polimer, dan banyak lagi. Bagi yang religius, benar absolut hanya diketahui Allah. Manusia berupaya mengungkap dan memanfaatkan keteraturan semesta untuk kemaslahatan manusia. Posmo dengan logika dan rasionalitas berupaya untuk in action berkelanjutan. Segala yang problematis, yang beragam, yang kontradiksi perlu dipecahkan secara cerdas untuk menemukan jalan menuju kebenaran. Ilmiah, bagi era modern akan bergerak dari tesis atau ke tesis lain, dan dari teori satu ke teori lain.

Ilmiah, bagi era posmo dengan logic of discovery dan logic of inquiry bergerak dari innnovation dan invention satu ke innovation dan invention lain.

kebenaran semesta dapat dipilahkan menjadi dua, yaitu kebenaran keteraturan substantif dan kebenaran keteraturan esensial. Invensi berbagai keteraturan esensial dapat dikreasikan oleh manusia berbagai rekayasa teknologi. Hasilnya dapat luar biasa dan tak terduga, sebagaimana temuan di bidang komputer, temuan DNA, polimer dan lain-lain. Karena itu, inovasi hasil rekayasa teknologi memang tak tergambarkan sebelumnya, dan substansu kebenarannya pun memang belum ada. Meskipun demikian bertolak dari invensi-invensi esensial, imajinasi manusia dapat memprediksikan inovasi masa depan, seperti cerita ilmiah imajinatif pistol laser dari Prins Barin di planet Mars, pesawat ruang angkasa dari Flash Gordon, pembiakan lewat sel, ternyata terbukti dapat direalisasikan. Berbeda dengan rekayasa sosial. Banyak futurolog menampilkan struktur masyarakat atau dinamika masyarakat masa depan, seperti Toffler, Daniel Bell, Naisbitt, atau lainnya. Meskipun menggunakan indikator tertentu, tetap saja akan lebih banyak salahnya daripada benarnya.

Dari penjelasan di atas, dapat dijelaskan bahwa ilmu menjadi empat yaitu: pertama, temuan basic and advanced research yang umumnya lewat eksperimen laboratori (seperti listrik, sinar gamma, struktur polimer, DNA); kedua, temuan fikir cerdas manusia, umumnya secara deduktif (seperti temuan angka arab, angka 0, sistem desimal, huruf latin, logika); ketiga, temuan rekayasa teknologi, temuan technological and advanced research, yang umumnya lewat eksperimen laboratori (seperti temuan televisi, komputer, satelit, polimer buatan, operasi jantung); dan keempat, temuan rekayasa sosial (seperti sistem kasta, monarkhi, teori konflik, teori fungsionalisme, teori posmo).

Apakah posmo hanya menyangkut rekayasa sosial? Tidak. Dengan mengkonstruksi paradigma genetik jantan-betina, menjadi paradigma lain, ditemukan DNA.

Dengan mendekonstruk sistem desimal menjadi sistem digital berkembang software ilmu komputer. Dekonstruksi paradigma sosial, berkembang berbagai teori para futurolog. Dekonstruksi sosial paling banyak, tetapi nampaknya juga yang paling banyak membuat kesalahan prediksi. Makna poststruktural, postparadigmatik akan menjadi semakin menonjol dalam peran berfikir postmodern. Pada era modern, baik positivist maupun postpositivist, para ahli terpusat pada upaya membangun kebenaran dengan mencari tata hubungan rasional-logis, baik secara linier pada positivist, maupun secara kreatif (divergen, lateral, holographik, dan lain-lain) pada postpositivistik. Pada era Postmodern para ahli tidak mencari hubungan rasional-integratif, melainkan menemukan secara kreatif kekuatan momental dari berbagai sesuatu yang saling independen dan dapat dimanfaatkan.

Akhir era postposivist menampilkan pemikiran sistematik, sedang awal berfikir postmodern perlu mulai mengembangkan pemikiran sinergik. Berfikir sistemik sekaligus sinergik dapat dilakukan dalam paradigma postmodern.

Show me the panda

Puisi Cinta Ala Biologi

Nah,,, setelah postingan sebelumnya puisi seniman fisika yang sedang jatuh cinta, kali ini seniman biologi yang jatuh cinta,,, atau mungkin saling jatuh cinta mereka...???!! hahahahaaa........

Part I :
Hey, kau yang ada disana
Entah mengapa, setiap aku bertemu denganmu, pipiku merona layaknya glukosa yang ditetesi fehling A & B. Otot tulang rusuk dan diafragmaku berkontraksi relaksasi, bertalu-talu memburu nafasku. Serebrum dan serebelumku lamat-lamat melupakan tugasnya.

Hey, kau yang ada disana
Kau tahu, mengapa hatiku terikat oleh benang-benang spindel hatimu? Karena kau adalah mitokondria yang menghasilkan energi-energi kehidupanku. Karena kau adalah auksin yang mampu membuat pucuk-pucuk hatiku menjulang ke awan-awan. Karena kau adalah Rhizobium yang senantiasa mengikat N2 cintaku.

Hey, kau yang ada disana
Tidakkah kau sadari, bahwa kita berdua adalah gen komplementer− yang akan tetap menghasilkan filial-filial yang tuli dan gagu bila kita tak bersatu? Bahwa kita adalah Nitrosomonas dan Nitrosoccocus yang takkan mampu mengubah amoniak menjadi nitrit tanpa kehadiran yang lainnya?

Hey, kau yang ada disana
Hatiku akan selalu bersimbiosis dengan hatimu, tak peduli apakah kita ini homologi atau analogi, heterozigot atau homozigot. Tak peduli meskipun kau memiliki beribu-ribu lisosom dan aku hanya mempunyai dinding sel. Aku bahkan tak peduli apakah engkau ini adenin ataupun guanin− yang jelas, aku akan selalu membawakan pasangan asam amino yang tepat ke dalam ribosom hatimu.

Hey, kau yang ada disana
Takkan pernah aku berinterfase untuk mencintaimu…
Part II:
Hai, kau yang di sana
Siapakah dirimu….
Hingga tatapanmu mampu menjadi anaestesi duniaku?
Siapakah dirimu….
Hingga pesonamu bak feromon yang menarik perhatianku?
Siapakah dirimu….
Hingga kau mampu menjadi auksin yang merangsang cintaku tuk bersemi?
Dan mengapa harus dirimu yang menghasilkan fibrin menutupi luka lamaku?
Hai, kau yang di sana….
Tak mampu aku pungkiri bahwa aku mendambakanmu
Ketika sinar dirimu tertangkap jelas oleh konus retina ini
Tak mampu aku sangkali bahwa aku membutuhkanmu
Saat suara lembutmu merangsang gerak koklea telinga ini
Tak mampu aku ingkari bahwa aku menginginkanmu
Kedatanganmu membuat aliran darah menyeruak arteri dan vena ini
Hai, kau yang di sana…..
Aku ingin mencintamu dengan kokoh
Sekokoh ikatan kovalen yang tak tergoyahkan
Aku ingin mencintaimu dengan peka
Sepeka saraf yang mengantar rangsang dari dendrit ke dendrit
Aku ingin mencintaimu dengan pasti
Sepasti jantung yang tak akan pernah berhenti berdetak
Hai, kau yang di sana
Seperti bakteri yang bereproduksi dengan cepat,,,
Demikianlah keingintahuanku akan dirimu kian memuncak….
Hatiku terus bertanya pada MRNa,,,
Adakah sedikit pesan yang menyiratkan identitasmu?
Hai , kau yang di sana
Bayangan dirimu telah menjadi alel yang mengisi lokus cinta ini.
Sulit bagiku mendiagnosa arti dari setiap simptom yang muncul bagaikan misteri.
Dengan kerja keras neuronku membaca impuls yang kau sampaikan,,,,
Aku tahu bahwa setiap barisan kodonku dapat mentranslasikan setiap pesan dihatiku
Kini kusongsong dirimu, hai kau yang ada di sana
Aku mencintaimu…


Dikutip dari : unjakkreatif.blogspot.com

Puisi Cinta Ala Fisika

Seorang seniman puisi tidak selalu harus sekolah atau kuliah di bidang ilmu seni, bahasa, sastra atau disiplin ilmu lainnya yang menyangkut dengan seni atau tata bahasa. Tidak sedikit seniman yang lahir dengan bakat seninya tetapi masa hidupnya mempelajari disiplin ilmu yang lain. Nah inilah puisi dari seorang seniman yang gemar fisika, yang kebetulan sedang jatuh cinta.... He,,,he,,,he....!!!!

Part I :
Cantik...
Pertama kulihat bayanganmu jatuh dalam Fokus hatiku
Nyata, lurus, dan diperbesar oleh kekuatan Lensa Maksimum
Laksanan tetes Minyak jatuh di Ruang Hampa
Melayang...bebas dari segala Gaya Gravitasi
Cinta untukmu lebih besar baripada Bilangan Avogadro
Archimides dan Newton pun tak kan mengerti Medan Magnet yang meng-Induksi diantara Kutub hati kita
bahkan Enstein dan Edison pun tak kan sanggup membuat Rumus yang sebanding dengan Moment cinta kita
Meski jarak diantara kita laksanan Mercurius dan Pluto,
tapi Amplitudo gelombang hatimu sanggup meng-Interferensi hatiku
Seindah laksana gerak Harmonik yang sempurna dan tak kan terpengaruh oleh Gaya Pemulih
seirama laksanan Kopel Gaya khayalan Kecepatan Angular yang tanpa batas
Energi mekanik cinta kita tak kan terpengaruh Friksi
Energi potensial cinta kita tak kan terpengaruh oleh Tetapan Gaya
bahkan Hukum Kekekalan Energi sekalipun tak kan mampu menandingi Hukum Kekekalan Cinta diantara kita berdua
Cantik...
Momen cintaku Tegak Lurus dengan Momen cintamu
Menjadikan Matriks yang Simetri
Menjadikan cinta kita laksana Titik Equilibrium yang sempurna
Inersia yang tanpa batas tak kan goyah oleh Impuls atau Momentum Gaya sekalipun
Inilah Resultan Momentum cinta kita
Part II :
Malam gelap temani sepi
Secercah foton enggan menghampiri
Gelombang nada tiada menemani
Saat intuisi hanyalah ekspektasi
Saat kurasakan getaran cinta
Dengan kecepatan melebihi cahaya
Potensial tangga tak berdaya meluruhkannya
Mungkin ini hanya imajinasi hampa
Dunia kita ialah relativistik
Tampuk tahta bukan mekanika klasik
Tapi cintaku ini tetap deterministik
Dengan kesucian tanpa hukum probabilistik
Walau cinta ini tak bersambut
Walau luka ini sisakan takut
Namun nuraniku senantiasa terpaut
Layaknya katrol pesawat Atwood
Cinta ini takkan pernah bertepi
Seperti osilator harmonik tanpa terhenti
Semua rapi tersusun dalam hati
Bagai kristal tak cacat kisi
Akankah cinta ini kembali?
Menatap bayang indah rajutan mimpi
Ataukah khayal tetap berdiri?
Merusak angan dengan radiasi tinggi


Dikutip dari : unjakkreatif.blogspot.com

Mata Mungil yang Menyimpan Dunia

Jakarta, 2006 
 
Selalu. Setiap pagi. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya, ia selalu melihat bocah itu tengah bermainmain di kolong jalan layang. Kadang berloncatan, seperti menjolok sesuatu. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar, seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock.

Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat, Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu, saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil, agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka.

Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Usianya paling 12 tahunan. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Selalu bercelana pendek kucel. Berkoreng di lutut kirinya. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Dan
itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya, agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu.

Memandang mata itu, Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Tak ada keruwetan, karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan
gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar, akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan, kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan, seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light.

Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Ia menurunkan kaca mobilnya, menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya.
Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu.
Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Ia suka menatapnya berlama-lama. Dan itu rupanya membuat Mama cemas— waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan, yang kata Mama, sewaktu kanak-
kanak juga menyukai boneka— lantas segera membawanya ke psikolog. Berminggu-minggu mengikuti terapi, ia selalu disuruh menggambar. Dan ia selalu menggambar mata. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu; mata dengan sebilah pisau yang menancap atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska.

Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Ia ingat perkataan Oma, saat ia berusia tujuh tahun, ”Mata itu seperti jendela hati. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya… .” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Tapi Papa kerap menghardik, ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang.

Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka, tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. Kadang— tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama, hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. Setiap menatap mata seseorang, Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung, pecahan kaca yang menancap di kornea, kawat berduri yang terjulur panjang, padang gersang ilalang, pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung.

Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Mata yang penuh kemarahan. Mata yang berkilat licik. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Karena itu, Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Rasanya, itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap. Begitu bening begitu jernih. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia.

Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Setiap kali terkenang mata itu, setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya.

Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal, Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah, seperti mata bocah itu. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Membuat Gustaf berpikir, bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Dan ia makin ingin memiliki mata itu. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda… .

Gustaf kini bisa mengerti, kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang— karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya, hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar
burung-burung itu kembali terbang. Ketika berjongkok, pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Semua itu hanya mungkin, karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia.

Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu, batin Gustaf. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Eceng gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi, bambu apus tumbuh di
dekat pakaian yang dipajang. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian… .

Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. Bila ia bisa memiliki mata itu, ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik, menawarinya segepok uang agar mereka mau
mendonorkan mata bocah itu buatnya. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Bila perlu ia menculiknya. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran, dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang.

Gustaf tersenyum. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu!

Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Ia ingin ketika ia muncul kembali, semuanya sudah tampak sempurna. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata, pikirnya. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia.

Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya, ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Ia ingin membuka jendela, dan melemparkan recehan, tapi segera ia urungkan karena merasa percuma.

Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya… .

Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift.

Begitu lift itu tertutup, seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas, sambil berbicara kepada temannya.

”Kamu lihat mata tadi?”
”Ya.”
”Persis mata iblis!”


Dikutip dari : Pantun Indonesia

Cerita tentang Orang Mati yang Tidak Mau Masuk Kubur

GM Sudarta (1 Oktober 2006)

Hampir selama 30 tahun, sepasang mata yang seakan memancarkan api kebencian itu selalu mengikuti aku pergi. Selama itu pula membuatku nyaris menjadi gila. Dengan mengikuti bimbingan seorang kiai, akhirnya aku bisa menganggap tidak ada kehadiran sepasang mata itu, meskipun masih selalu mengikuti aku.

Adanya lintang kemukus yang muncul di langit dini hari adalah benar-benar pertanda alam akan adanya pageblug. Dan 40 hari kemudian, ternyata perang saudara meledak. Tidak hanya di daerah kami, malahan di seluruh negeri, sejak terdengar berita terbantainya para jenderal di sebuah lubang sumur di pinggiran kota Jakarta.

Setahun kemudian, suatu malam, aku dan Mulyono, sahabat karibku, bersama regu ronda dengan komandan Mas Parman, seorang pimpinan gerakan pemuda, mendapat tugas rutin dari aparat yang sungguh tidak kami harapkan. Yakni tugas sebagai tukang kubur. Berpuluh-puluh orang diturunkan dari truk di tengah kebun jati, dengan kedua ibu jarinya diikat kawat. Setelah ikatannya dilepas, di bawah ancaman tendangan dan pukulan pistol, setiap empat orang diharapkan menggali sebuah lubang selebar dua meter. Akhirnya mereka diharuskan berjongkok menghadap lubang, dan dentumandentuman pistol bergema. Kami memejamkan mata atau melengos ke samping. Hanya Mas Parman yang tampak tegar melihat eksekusi ini.

Tugas kami berikutnya adalah mengubur mereka, meratakan gundukan tanah dengan sekop dan cangkul yang sudah tersedia. Satu lubang untuk empat jenazah. Kami kerjakan dengan mulut rapat dan memang harus bungkam meskipun mayat-mayat itu kami ketahui adalah tetangga atau kerabat kami. Kalau tidak, mungkin kami bernasib seperti mereka.

“Kalian harus jadi orang tangguh dalam keadaan seperti ini. Bayangkan! Kalau mereka menang, akan jadi apa kita?! Kita pun akan disembelih seperti para jenderal itu,” nasihat Mas Parman kepada kami.

Malam-malam seterusnya adalah malam kematian. Kehidupan hanya sebatas jangkauan lampu minyak yang tergantung di gardu ronda. Selebihnya adalah gelap semata. Di gardu jaga, kami lebih banyak diam berselimut sarung, meringkuk dan merapat ke dinding. Binatang malam pun tak terdengar suaranya. Warga kampung juga lebih menyukai mematikan lampu dan bersembunyi dari ketakutan ke dalam kegelapan.
Hanya Mas Parman yang selalu siaga mondar-mandir di depan gardu.

Suatu kali, kata sandi yang kami terima dari kelurahan adalah rokok-kelembak. Adalah tugas kami para pemuda yang memperoleh giliran jaga untuk mencegat siapa saja yang keluar malam hari dan menegurnya dengan kata sandi rokok. Bila tidak menyahut dengan kata kelembak, kami berhak memukulinya dan menyerahkan ke aparat setempat.

Menjelang tengah malam, terlihat seorang berjalan terbungkuk-bungkuk melintas di depan gardu kami sambil membawa upet sebagai penerang jalan.

“Stop! Rokok!” teriak Mas Parman.

Ternyata orang itu adalah Mbah Warso yang kami kenal sebagai penggali sumur di kampung kami. Dia kaget dan tergagap. Dia keluarkan sebungkus rokok keretek dari sakunya, sambil katanya: “Rokok Man? Nih!” Tapi uluran tangannya ditepis oleh Mas Parman hingga rokoknya terpental.

“Dari mana kamu!” tanya Mas Parman garang.

“Dari jagong bayen, Man… ” jawab Mbah Warso terheran-heran.

Tiba-tiba, plak! Mas Parman menampar muka Mbah Warso dan perintahnya kepada kami: “Tangkap! Bawa ke markas!”

Kami tidak berani membantah, meskipun kami tahu bahwa mungkin Mbah Warso lupa atau tidak tahu sandi kampung kami. Kami yang tidak tega dengan nasib Mbah Warso, segera meninggalkannya di markas, sementara Mas Parman tampaknya senang menikmati raungan orang kesakitan dan rintihan menyayat orang minta ampun.

Beberapa hari kemudian, setengahnya aku protes terhadap penangkapan Mbah Warso terhadap Mas Parman, tapi ujarnya dengan keras, “Dia adalah salah satu saksi mata dan mungkin antek mereka! Berapa banyak dia menerima pesanan menggali sumur dari siapa-siapa yang menggunakan galiannya seperti di Lubang Buaya.”

Hatiku berdesir, saya mengetahui bahwa ternyata Pak Hardi, tetangga saya, aktivis partai, juga membuat galian sumur di belakang rumahnya, meskipun sudah memiliki sumur di samping rumah. Bukan tidak mungkin aku pun akan menghuni galian itu apabila mereka menang seperti kata Mas Parman.

Malaikat maut tampaknya semakin menebarkan sayapnya. Perlawanan dari pihak yang terburu bermunculan pula, mungkin lantaran terdesak. Suatu malam, rumah Pak Karto, warga desa sebelah, terbakar. Pak Karto adalah sebuah aktivis sebuah partai pula yang gencar memburu dan mendata siapa saja anggota partai terlarang yang harus ditangkap. Dia diketemukan, ya Allah, hangus di bawah reruntuhan rumahnya dengan dua paku besar menancap di kiri kanan pelipisnya seperti tanduk! Konon yang melakukan adalah anaknya sendiri. Hatiku ngilu!
“Kamu lihat!” kata Mas Parman kepada kami. “Mereka mau menantang. Darah harus dibayar darah! Utang nyawa dibayar nyawa.” Kemudian dia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. “Dan ini mereka-mereka yang harus diciduk malam ini!”

Dari mana Mas Parman mendapatkan daftar itu, kami tidak pernah tahu. Bersama jagabaya, Mas Parman bagaikan panglima perang, bersenjatakan pedang, memimpin kami menggedor pintu rumah dan menyeret para lelakinya. Kalau orang yang dicari sudah terlanjur kabur, yang ada di rumah sebagai gantinya. Para istri atau para kakek pun diciduk pula tanpa ampun. Termasuk Mbak Sri yang sedang hamil tua.
“Mereka sangat diperlukan untuk interogasi, ke mana mereka yang masih jadi buronan?!” ujar Mas Parman, sebelum aku berniat protes.

Di markas, dalam ruang pemeriksaan yang sempit, tampak di dinding dan di beberapa tempat, ada bekas-bekas cipratan darah. Dengan lampu remang-remang, tempat ini lebih meniupkan aroma ruang siksa daripada ruang pemeriksaan. Mas Parman sibuk menyiapkan alat pembangkit listrik yang kabelnya semrawut dengan ujung telanjang. Bayangan menyeramkan membuat kepalaku berkunang-kunang.

Ketika kemudian para tawanan bergiliran dipanggil ke dalam, kemudian terdengar bentakan suara Mas Parman dan kemudian terdengar raungan menyayat orang kesakitan, perutku jadi terasa mual dan aku pun muntah-muntah. (Kudengar beberapa waktu kemudian, Mbak Sri meninggal di tahanan dengan benjolan-benjolan memar di sekujur tubuhnya).
Semakin lama tugas kami semakin berat. Kecuali siap siaga siang malam, hampir setiap tengah malam kami harus mengubur berpuluh-puluh mayat. Bahkan kamilah yang menggali kubur apabila yang datang sudah menjadi mayat. Bila sudah begini, kepalaku semakin berkunang-kunang, peluh dingin membuatku menggigil, perut mual, muntahmuntah, dan tidak jarang jatuh tak sadarkan diri. Juga Mulyono, kalau bertugas mengubur mayat, peluh dingin membasahi dahinya, tangannya gemetar, serta suka menggigit bibirnya sampai berdarah-darah. Oleh karena itu, Mas Parman menyuruh aku dan Mulyono istirahat cuti beberapa hari di rumah.

Tinggal seharian di rumah inilah, kusempatkan untuk menyadap berita bisik-bisik dari para tetangga bahwa banyak korban tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Betapa murahnya nyawa, ujar Mulyono. Hanya dengan dendam pribadi, kecemburuan, terlibat utang, atau ingin merebut istri orang, seorang bisa menjadi korban hanya dengan bisikan fitnah. (Jangan-jangan Mbak Sri juga termasuk korban, karena setahuku dia
pernah menolak cinta Mas Parman).

Rupanya api dendam telah membakar seluruh rakyat. Penangkapan warga terhadap warga sendiri yang dicurigai mempunyai indikasi, mulai merebak. Yang kusaksikan kemudian adalah keadaan tak terkendali. Baku curiga, baku tuduh, baku fitnah, dan baku bantai antara warga sendiri. Rupanya Mulyono juga mempunyai perasaan seperti aku. Kerap kali kami menghindar dari tugas itu dengan berbagai alasan. Bahkan kami pernah sembunyi di dalam hutan beberapa lama karena mencoba berpikir waras untuk melawan kengerian yang juga bisa membuat kami sekarat. Karena itu, aku sempat digelandang Mas Parman ke balai desa.

Di depan warga ia berucap dengan berang, “Jangan jadi orang banci! Dasar anak yatim, kalau bukan sepupuku sendiri, sudah aku ciak kamu!” Kutahan perasaan untuk tidak menangis mendengar caciannya.
Kulihat Mas Parman semakin garang dengan seragam kesatuan pemuda loreng-loreng seperti tentara dengan sepucuk pistol terselip di pinggang. Rupanya selama kami absen, teman-teman lain mendapat latihan menembak. Sulit kubayangkan bahwa kami juga ditambahi tugas semakin berat sebagai eksekutor, mengingat semakin gawatnya perang saudara. Kemarin ditemukan banyak mayat ditenggelamkan di sebuah rawa
sehingga beberapa waktu hasil pertanian kangkung di rawa tersebut tidak laku dijual.
Peristiwa itu menyusul setelah adanya penangkapan besar-besaran oleh aparat terhadap ratusan pemuda yang ingin menjarah persenjataan di gudang senjata di pusat pendidikan prajurit di kota kami.

Dan malapetaka itu pun terjadi. Setiap malam, berpuluh tahanan dibawa ke sungai pasir di lereng gunung merapi. Mas Parman memaksaku untuk menghabisi Marjo, pemuda tetanggaku yang selalu berseragam hitam dengan sapu tangan merah di lehernya. Dengan tangan terikat, dia harus menghadap lubang galian pasir. Aku siap dengan pistol di belakangnya. Terdengar aba-aba siap. Peluh membasahi telapak tanganku. Badanku menggigil. Kepalaku berkunang-kunang. Perutku mual, mau muntah…

“Tembaaak!” teriak aba Mas Parman. Tiba-tiba Marjo berbalik menghadapku bersamaan dengan tekanan pelatuk pistolku. Matanya menatapku tajam. Tepat di dadanya muncrat darah mengenai mukaku. Jantungku seperti terhenti, kemudian hanya kegelapan menerpa pandanganku… Dan kemudian yang tersisa hingga sekian lama adalah tatapan mata Marjo yang selalu mengikutiku.
Kartu lebaran yang kuterima dari sahabatku, Mulyono, membuatku menghabiskan masa liburan ini di kota kelahiran bersama keluargaku, setelah hampir tiga puluh tahun ingin kulupakan. Mulyono yang sudah jadi dokter dan baru pulang haji menyambutku dengan pelukan dan tangis. Pengalaman masa lalunya juga tak jauh berbeda denganku.
Jiwanya juga pernah terguncang sewaktu menghabisi seorang tawanan. Tidak dengan pistol melainkan dengan parang.


“Kamu tahu, Aryo,” ceritanya. “Setelah aku lulus dan mulai praktik, beberapa kali aku kedatangan pasien yang sama. Lelaki kurus, pucat, dan bermata cekung. Setiap kutanya sakit apa, dia buka bajunya dan tampak perutnya robek menganga dengan usus yang terburai. Sesudah itu aku tak tahu dia pergi karena aku pingsan. Hingga aku pun juga hampir jadi gila. Tapi sekarang aku tenang, setelah bisa aku atasi dengan tekun beribadah.”

“Sekarang Mas Parman di mana ya?” tanyaku. Cepat dia jawab dengan pandangan aneh seperti mengandung rahasia. “Oh ya, kau harus tengok dia. Dia sempat diangkat jadi camat. Sekarang dia sakit. Beberapa kali dia dibawa kemari. Dia sekarang tinggal di desa kelahirannya sana!”

Mas Parman masih segar ingatannya saat kutemui. Dia merangkulku sambil menepuk-nepuk punggungku. Kami mengobrol ke sana kemari tentang Jakarta dan tentang jabatan camat yang dia peroleh setelah kekacauan usai. Ketika aku berbasa-basi mengucapkan terima kasih bagaimana dia dulu telah menggemblengku jadi orang  tegar, tiba-tiba dia meringkuk sambil merintih kesakitan. Seluruh tubuhnya mendadak penuh benjolan-benjolan memar seperti habis disengat listrik. Aku pun panik. Akan kugotong dan kubawa ke dokter, tetapi istrinya tampak tenang saja.
“Tidak apa-apa, biar saja Mas,” ujarnya, “sejak jadi camat, penyakit aneh ini selalu timbul ketika diingatkan tentang masa lalunya. Tapi saat hendak dibawa ke dokter, penyakitnya selalu hilang dengan sendirinya.”
Ah, masa, pikirku. Dengan setengah memaksa, kubawa dia dengan mobil ke tempat Mulyono. Begitu sampai di depan pintu ruang praktiknya, mendadak penyakit Mas Parman hilang dengan sendirinya. Rintihannya berhenti dan wajahnya penuh ketidakmengertian.
Mulyono keluar. Senyumannya aneh menyambut kami… 
 
 
Notes:
Lintang kemukus : meteor berekor asap
Pageblug : musim kematian manusia
Upet : tali bambu kering yang dibakar ujungnya
Jagong bayen : menghadiri selamatan kelahiran bayi 
Jagabaya : aparat keamanan kelurahan
Diciduk : ditangkap
Ciak : makan

Rokok kelembak : rokok berbumbu menyan

Dikutip dari : Pantun Indonesia

Pantun Nasihat

Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

Kemuning ditengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri

Parang ditetak kebatang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu

Padang temu padang baiduri
Tempat raja membangun kota
Bijak bertemu dengan jauhari
Bagaikan cincin dengan permata

Ngun Syah Betara Sakti
Panahnya bernama Nila Gandi
Bilanya emas banyak dipeti
Sembarang kerja boleh menjadi
Sumber : Pantun Indonesia 

Pantun Budi

Bunga cina diatas batu
Daunnya lepas kedalam ruang
Adat budaya tidak berlaku
Sebabnya emas budi terbuang

Diantara padi dengan selasih
Yang mana satu tuan luruhkan
Diantara budi dengan kasih
Yang mana satu tuan turutkan

 
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sujinya
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya

Sarat perahu muat pinang
Singgah berlabuh di Kuala Daik
Jahat berlaku lagi dikenang
Inikan pula budi yang baik

Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin

Biarlah orang bertanam buluh
Mari kita bertanam padi
Biarlah orang bertanam musuh
Mari kita menanam budi

Ayam jantan si ayam jalak
Jaguh siantan nama diberi
Rezeki tidak saya tolak
Musuh tidak saya cari

Jikalau kita bertanam padi
Senanglah makan adik-beradik
Jikalau kita bertanam budi
Orang yang jahat menjadi baik

Kalau keladi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
Kalau budi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
 

Aku, sampai, saat ini

Tersentakku,,, terkejut...
terbelalak melihat luasnya dunia....yang awalnya tak kupercaya....
terhenyakku,,, terperanjat....
begitu indahnya karya cipta ini....yang awalnya tak kuketahui....

kumenjerit,,, menangis......
saat kuterlahir di dunia.

untaian huruf,,, disusun dengan makna penuh asa....
sebuah kata,,, terangkai bersama khayalan tinggi menjelang masa....
sebuah nama,,, dilekatkan dengan harapan penuh cinta.

t'lah kulalui,,,
saat-saat sendok berisi bubur disuapkan....
t'lah kulalui,,,
saat-saat lutut  menggesek lantai....
t'lah kulalui,,,
saat-saat aq harus memakai seragam....
t'lah kulalui,,,
saat-saat bermain...
t'lah kulalui,,,
saat saat aq harus mencari jajan....

t'lah kurasakan,,,
manis dan pahitnya kehidupan...
t'lah kurasakan,,,
gelap dan terangnya perjalanan...
t'lah kurasakan,,,
lembut dan kerasnya Kenyataan.

apa yang telah terlewati,,
t'lah kulewati....
apa yang kucari,,,
masih tetap kucari....
apa yang kuinginkan,,,
kumasih menginginkannya....
apa yang harus kuperlajari,,,
tetap kupelajari.

semua yang terbaik dariku,
hanya kebetulan.
semua yang terbaik bagiku adalah sebuah rezeki luar biasa yang tak mungkin kubayarkan.

Syukurku,,,
saat ini kumasih Diizinkan menghirupkan nafas....
syukurku,,,
tak pernah Dibiarkan kelaparan dan terhempas...

Alhamdulillah ya ALLAH....Engkau masih mengizinkanku hidup diduniamu......
Sampai detik ini.....
 

Terimakasih Keikhlasan, dari keyakinan

Yakin dengan keyakinan itu,,,
Bersabar dalam kesabaran itu.
Optimis atas optimisme,
Ikhlasku atas keikhlasanmu....

Tepiskan ragu atas semua keraguan,
Tanamkan sayang didalam hati yang tersayang..
Tumbuhkan cinta diantara dua insan pecinta...

Semua itu tumbuh, sampai saat ini terus berkembang..
Angin kencang terkadang menggoyahkan..
Tapi akar keyakinan tetap membuatnya kokoh berdiri diatas kesetiaan...

Benih keikhlasan telah menghasilkan buah cinta dengan dahan kepercayaan dan indahnya bunga perhatian....

Terima kasih keikhlasan dari sebuah keyakinanmu yang telah menancap tajam  disebelah kanan organ dalam tubuhku.

D-Viz