Showing posts with label Social. Show all posts
Showing posts with label Social. Show all posts

Arogansi Kepolisian : Hak Azasi dan Keadilan Tak Ada Di Seragam Kepolisian

Lagi-lagi kepolisian kita menunjukkan sikap arogannya kepada masyarakat. Kali ini masyarakat bima yang jadi sasaran. Massa yang sebagian besar adalah mahasiswa yang melakukan aksi demo dan memblokade pelabuhan harus dihadapkan dengan Pasukan Pengendali tanpa Rasa Manusiawi (PPRM) dari kepolisian dan beberapa diantaranya menemui ajal akibat terjangan timah panas dari laras senjata Anggota Kepolisian Republik Indonesia.
Polisi yang seharusnya memberikan rasa aman, saat ini malah menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Polisi yang seharusnya menjadi kerabat masyarakat seperti slogan yang selama ini tertera disudut-sudut kantor kepolisian yang bertuliskan "Polisi Mitra Masyarakat" malah menjadi sebuah kesatuan yang seakan menjadi teror mengerikan bagi masyarakat.
Apakah kurang jelas tragedi masa lalu akibat dari kekejaman militer untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi pihak kepolisian dalam bertindak ? Mari sedikit kita ingat lagi, sebuah sejarah besar di Aceh, salah satu pemicu mencuatnya pemberontakan adalah kekejaman dari pihak militer. Apakah ini yang diinginkan? adanya pemberontakan di daerah-daerah lain?
Kesombangan dan keangkuhan kepolisian sudah sangat meresahkan masyarakat bahkan masyarakat sudah bosan dengan itu. Aksi kekerasan aparat kepolisian ini pun mendapat kecaman dari berbagai pihak. Seperti yang disampaikan Presidium GMNI Imam Munandar Batubara (dikutip dari Kompas.com), mengutuk tindakan kekerasan itu. Kepolisian telah kehilangan orientasi dalam menangani aksi-aksi massa. Pemerintah terkesan tutup mata, dan cenderung melakukan konspirasi dengan pemilik modal.
"Sebuah realitas yang sangat memprihatinkan di era demokrasi. Pemerintahan SBY diakhir tahun 2011 meninggalkan terlalu banyak luka di hati rakyat Indonesia. Buka mata dan hatimu wahai Presiden SBY yang masih terhormat. Mau berapa banyak lagi rakyat yang mati secara sadis di depan mata,” tandas Imam.
Sebenarnya siapa yang menjadi prioritas perlindungan oleh pihak Kepolisian, masyarakat atau para konglomerat kaya ? beberapa aksi demo ataupun kasus-kasus yang melibatkan masyarakat menengah kebawah melawan para konglomerat atau pejabat hampir semuanya pihak kepolisian bertindak keras kepada masyarakat dengan membubarkan paksa bahkan tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik, lebih parahnya lagi menembakkan senjatanya. Mengapa tidak pernah ada pemberitaak yang mengabarkan bahwa pihak kepolisian membantu masyarakat dalam suatu kasus dengan mempertemukan kedua belah pihak yang bertikai dan merundingkan permasalahan tersebut atau malah akan lebih baik lagi jika terdengar berita, Pihak Kepolisian memberi Peringatan Tegas kepada para pengusaha yang mengakali masyarakat, yang mengesampingkan kesejahteraan masyarakat atau mengambil hak masyarakat.
Lucunya lagi, berita yang saya baca di detiknews.com, Briptu Ahmad Rusdi Harahap yang lebih sayang pada sendalnya dari pada anak-anak sehingga buntut dari apa yang dilakukannya memicu Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membuka posko sendal untuk mengumpulkan sumbangan sendal jepit yang nantinya akan disumbangkan ke Kapolri. Kejadian ini juga menggambarkan bahwa kepolisian tidak memandang umur dan tidak punya belas kasihan walalupun itu anak-anak. (silahkan baca beritanya disini).
Halo.... Pak,,, coba dianalisa kembali, apabila kepolisian terus-terusan dengan arogansi dan kekerasan seperti ini berapa banyak pemberontakan yang akan terjadi, berapa banyak tempat yang akan menjadi arena perang dan berapa banyak nyawa lagi yang bakalan hilang melayang, kita bawa ke aspek prioritas perjabat, keuntungan financial, berpa banyak kerugian negara yang akan timbul...???!!!!
Berikut ini ada beberapa daftar video kekerasan yang dilakukan oleh anggota Kepolisian di beberapa tempat berbeda yang saya ambil dari youtube.

 



Peringatan Hari Internasional Penyandang Cacat 2011 Kota Banda Aceh.

"Mereka Tidak Berbeda, Mereka Istimewa", Itulah ungkapan yang disampaikan oleh Kartika Handayani, S.Sos, Salah seorang Staff Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) dari Kementerian Sosial yang ditugaskan di Banda Aceh mengenai pendapatnya tentang penyandang cacat.
Peringatan Internasioanl Penyandang Cacat (HIPENCA) 2011 merupakan hasil kerja sama dari beberapa unsur, mulai dari pemerintahan,  LSM, Komunitas Pemuda, NGO sampai Mahasiswa dan relawan. Acara yang berlangsung di Taman Putoe Phang Banda Aceh pada hari Sabtu 3/12 ini mengikutsertakan lebih dari 50 orang anak penyandang cacat dari seluruh wilayah kota Banda Aceh dan sekitarnya.
Sebagai pembuka acara, seluruh partisipan yang hadir termasuk anak-anak penyandang cacat melakukan longmars dimulai dari Taman Putroe Phang Ke arah Mall Barata dan melewati Balai Kota Banda Aceh.  Para Peserta mengusung Spanduk yang menyerukan keadilan bagi semua demi dunia yang lebih baik, termasuk hak bagi penyandang cacat. Selain itu, panitia penyelenggara dibantu oleh beberapa orang mahasiswa yang menjadi sukarelawan dalam acara ini juga membagikan selebaran yang berisi seruan tegas terhadap keadilan hak bagi penyandang cacat. Berikut ini isi dari pernyataan tegas yang tercantum dalam selebaran tersebut :
1. Pemerintah Republik Indonesia khususnya Pemerintah Provinsi Aceh Wajib Menghormati, Melindungi dan Memenuhi Hak-Hak Penyandang Disabilitas, Baik Hak Ekonomi, Sosial Dan Budayanya Maupun Hak Sipil dan Politiknya.
2. Hentikan Segala Bentuk Diskriminasi dan Kekerasan Terhadap Penyandang Disabilitas Baik Yang Terjadi Dilingkungan Keluarga Maupun Dilingkungan Sosialnya.
Wujudkan Bersama Kehidupan Sosial Yang Inklusif Bagi Penyandang Cacat/Disabilitas Di Aceh.
Dalam event ini juga diadakan beberapa kegiatan baik yang bersifat lomba untuk anak seperti lomba melukis dan turnamen catur maupun acara-acara hiburan seperti penampilan tarian tradisional aceh dan hiburan musik yang turut menampilkan Sanggar Curahan Ekspresi (CUEK).








Komunitas Pemuda Yang Luar Biasa di Banda Aceh

Beberapa komunitas  yang luar biasa ternyata tumbuh dan berkembang di Banda Aceh. Komunitas-komunitas yang lahir dengan latar belakang sosial dan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme ini adalah hasil inspirasi dari pemuda-pemuda Aceh yang aktif di berbagai bidang yang konsern terhadap kehidupan pemuda.
Berikut ini adalah review 4 Komunitas dari sekian banyak komunitas yang ada dibanda Aceh yang saya kutip dari talkshow di JATI FM.

Komunitas ini berdiri pada tahun 1999. Komunitas ini adalah sekumpulan anak-anak jalanan dan pekerja anak di seputaran Banda Aceh yang berinisiatif untuk mengisi waktu mereka dengan kegiataan-kegiatan musik, khususnya dibidang musik.
Menurut Munzir, juru bicara komunitas CUEK, Komunitas ini dibentuk untuk mengangkat martabat anak-anak jalanan dan pekerja anak dimata masyarakat dengan kreatifitas seni mereka dan untuk meminimalisir aktifitas-aktifitas negatif yang bisa merusak masa depan mereka.

Theather Lingkaran
Komunitas yang fokus pada kegiatas seni theater ini menyematkan nama lingkaran sesuai dengan Filosofi lingkaran yang tidak mempunyai ujung, tidak ada yang dibelakang dan tidak didepan. Begitulah ujar indah, perwakilan dari komunitas yang terbentuk pada Januari 2008 ini.
Salah seorang perwakilan lainnya, Agus, Menambahkan, "intinya semuanya sama dan sederajat dalam satu kebersamaan"

MJT Aceh ( Management joe Thunder)
Komunitas yang namanya diambil dari nama seorang maestro sulap Indonesia, Joe Thunder ini terbentuk dari hasil inspirasi Hendra Magic pada bulan Juni 2010.
Saat ini anggota dari kumpulan pesulap muda ini sudah lebih dari 20 orang dan menurut hendra masih mencari pemuda-pemuda berbakat dan serius untuk bergabung dengan mereka tanpa ada paksaan untuk mengeluarkan biaya satu sen pun.
Hendra menjelaskan, saat ini dia sangat menyayangkan anggapan sebagian masyarakat yang masih berpikiran bahwa sulap adalah kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal magis, harus bertapa digunung atau harus menuntut ilmu-ilmu kanuragan tertentu.
Padahal pada kenyataannya, seni sulap bukanlah sesuatu yang beraroma magis melainkan hanya sebuah aktivitas untuk memanipulasi sesuatu seperti mata ataupun suatu bahan kimia dengan trik-trik tertentu.
FP3 (Forum Pemuda Peduli Perdamaian) 
Berpijak pada kepedulian terhadap perdamaian di Aceh dan menjunjung tinggi pluralisme, Komunitas yang terbentuk pada tahun 2010 ini terdiri dari para pemuda dari berbagai latar belakang suku, ras dan agama serta berbagai profesi, mulai dari siswa sampai pengusaha yang merasa ingin perdamaian di aceh tetap terjaga dengan baik.
Hendra atau yang sering dipanggil brother mengungkapkan, selain pemuda-pemuda aceh saat ini dikomunitas terdapat pemuda-pemuda dari suku batak, jawa, padang, cina dan beberapa suku dan etnis lainnya yang juga berlatar belakang agama berbeda.

Kementrian Sosial Menyalurkan Bantuan 1,5 Juta untuk anak cacat di Banda Aceh

Dinas Sosial Provinsi Aceh hari ini dengan resmi menyalurkan bantuan sebesar Rp. 1.500.000,- kepada Anak Cacat dan Anak Berkebutuhan Khusus untuk Kota Banda Aceh. Bantuan disalurkan dalam bentung tabungan dan diserahkan secara simbolis oleh Wakil Walikota Banda Aceh Ny. Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, SE.
Bantuan yang diberikan berjumlah Rp. 1.500.000,- di serahkan dalam bentuk tabungan atas nama anak penerima manfaat. Buku tabungan tersebut di keluarkan oleh Bank Tabungan Negara (BTN), sebagai mitra dalam penyaluran bantuan pemerintah.
Program Kesejahteraan Sosial Anak Dengan Kecacatan (PKS-ADK) dari Kementrian Sosial RI di jalankan oleh Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kecacatan (FKKADK) Kota Banda Aceh dengan pengurusnya adalah Joko Suherman dan Riyani Diningsih yang sekaligus merupakan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan. Melalui Sakti Peksos yang di utus oleh Kementrian Sosial RI yaitu Febrina Adriyani dan Kartika Handayani, anak-anak penerima manfaat akan di dampingin untuk proses selanjutnya hingga berakhirnya bantuan.
"Fakta yang menunjukkan bahwa sebahagian besar anak dengan kecacatan berada dalam keluarga miskin. Susahnya memenuhi kebutuhan dasar keluarganya ditambah dengan kondisi anak yang membutuhkan perawatan khusus menjadi beban tersendiri bagi keluarga yang memiliki anak dengan kecacatan. Namun, dengan keikhlasan dan keinginan untuk maju anak dengan kecacatan dapat mampu untuk mandiri" Ungkap Hj. Illiza.
"Banyak anak dengan kecacatan yang mandiri, ada yang bisa menjahit, bermain music dan masih banyak lagi, sehingga para orangtua tidak perlu merasa malu ketika di karuniai anak yang sangat istimewa ini" lanjutnya. Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Provinsi Aceh menjelaskan bahwa bantuan ini diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi bantuan dasar anak, seperti kebutuhan gizi dan kesehatan. "Dengan adanya bantuan program Kesejahteraan Sosial Anak dengan Kecacatan (PKS-ADK) dari Kementerian Sosial RI di harapkan anak-anak dengan kecacatan dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, terpenuhi gizinya dan membuka akses kesehatan yang sangat di butuhkan oleh anak-anak"
"Untuk selanjutnya, Kami akan terus memberikan pelayanan yang lebih baik lagi untuk anak-anak dengan kecacatan" lanjut beliau.

Attribut To Munir

“Menorobos Ruang Gelap Hukum di Negeri Ini”

7 Tahun sudah berlalu tanpa ada kepastian apapun dari kasus yang menimpa munir. Hanya kekecewaan disetiap tahunnya yang tampak dari aktifis-aktifis yang tersisa saat ini. Hanya ada cacian kepada hukum yang wajahnya telah dicoreng oleh orang-orangnya sendiri. Hanya ada carut marut kepada pemerintah yang telah tak pernah atau bahkan merasa tak perlu menyelesaikan kasus penghilangan nyawa secara berencana ini.

Itulah gambaran dari aktivitas dari aksi yang dilakukan oleh kelompok Solidaritas Untuk Munir dan Sahabat Munir Sumatera Utara yang digelar selasa malam 20/09 dibundaran tugu Sinar Indonesia. Turut hadir beberapa aktifis dibidang hukum, persatuan buruh, persatuan petani, aktifis perempuan, aktifis hukum dan HAM serta anggota dewan dan beberapa orang aktifis lainnya.

Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian oleh beberapa perwakilan aktifis memiliki satu inti yang sama yaitu kekecewaan terhadap hukum di Indonesia serta kegagalan total dari pemerintah menyangkut kasus munir ini dengan tidak memberikan perhatian lagi bahkan cenderung mencoba untuk melupakan atau bahkan menghilangkan kasus tersebut.

Lebih dalam lagi, anggota Dewan Perkilan Rakyat kota medan dari fraksi PDI Perjuangan yang sebagai salah seorang rakyat yang masih tertindas dinegeri ini, ikut ambil bagian dalam merangkai kata-kata kekecewaan menegaskan bahwa pemerintah telah gagal dan tidak pantas lagi untuk didukung yang kemudian disambut oleh massa yang hadir dengan meng-iya-kan pernyataan tersebut. Selanjutnya beliau juga menyampaikan kepada seluruh massa yang hadir untuk tidak lagi percaya kepada lembaga-lembaga parlemen dan politik dikarenakan lembaga-lembaga tersebut telah dirasuki oleh kepentingan-kepentingan kapitalisme. “Kalau saya ditanya sebagai salah satu rakyat Indonesia, rakyat harus bergerak, jangan percaya lagi dengan lembaga-lembaga parlemen dan lembaga politik yang ada sekarang, karena telah dikuasai oleh kaum kapitalisme” Ungkap beliau. “Lembaga-lembaga hukum pun sudah dikuasai oleh mafia” imbuhnya menyangkut dengan lembaga penegak hukum yang terbukti tidak dapat menyelesaikan kasus-kasus besar yang terjadi beberapa tahun belakangan ini.

Aksi ini dihiasi dengan lilin-lilin yang disusun rapi sebagai salah satu simbol hening cipta dan beberapa replica kuburan yang tiga diantaranya tertera nama Munir, Bima Petrus dan Herman Hendrawan serta beberapa spanduk yang salah satunya bertuliskan “Menorobos Lorong Gelap Negeri” dan secara tegas menuntut untuk mengusut secara tuntas dalang dan aktor intelektual pembunuh aktifis HAM Munir. Sedangkan pada spanduk yang tersemat di tugu dengan judul “Persembahan 7 tahun” terdapat 4 poin tuntutan, yaitu :

1.Menuntut Keras Presiden SBY Mengusut Tuntas Pembunuhan Munir
2. Ungkap Siapa Dalang Pembunuhan Munir
3. Menuntut Keras Kepada Negara Untuk Membentuk Undang-Undang Perlindungan Permbela HAM (Human Right Defender - HRD)
4. Usut Tuntas Kasus-kasus Kekerasan dan Pembunuhan Pembela HAM di Sumatera Utara

Selain itu acara ini juga turut dihadiri oleh beberapa orang seniman salah satunya musisi jalanan yang tergabung dalam Komunitas Alam Raya yang dengan kreatifitasnya membawakan musikalisasi puisi yang bertemakan kehancuran negeri ini. Ikut ambil bagian dalam kegiatan ini beberapa orang sastrawan kota medan yang membacakan puisi dengan tema yang sama. Massa juga mengibarkan bendera Merah Putih tepat disamping spanduk yang dipasang ditugu yang juga memuat foto Munir serta menyanyikan 2 lagu wajib, Indonesia Pusaka dan Ibu Pertiwi.

Konsep Gender

Kata gender berasal dari bahasa Inggris, berarti jenis kelamin. Dalam Webster’s New World, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Sedangkan dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Hilary M. Lips dalam bukunya Sex and Gender: An Introduction  mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. HT.Wilson memahami konsep gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan.Meskipun kata gender belum termasuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun istilah tersebut telah lazim digunakan. Khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Pemberdayaan Perempuan dengan ejaan “jender” dan diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Gender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari sudut non-biologis. Hal ini berbeda dengan sex yang secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex lebih banyak berkonsentrasi pada aspek biologis seseorang yang meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi dan karakteristik biologis lainnya. Sementara itu, gender lebih banyak berkonsentrasi pada aspek sosial, budaya, psikologis dan aspek-aspek non-biologis lainnya. Studi gender lebih menekankan perkembangan maskulinitas (masculinity/rujuliyah) atau feminitas (feminity/nisa’iyyah) seseorang. Sedangkan studi sex lebih menekankan perkembangan aspek biologis dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness/zhukurah) dan perempuan (femaleness/unutsah). Untuk proses pertumbuhan anak kecil menjadi seorang laki-laki atau menjadi seorang perempuan, lebih banyak digunakan istilah gender daripada istilah seks. Istilah seks umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktivitas seksual, selebihnya digunakan istilah gender.

Mengikis Konflik Primordial Melalui Pendidikan Multikultur

Berbagai konflik horizontal dengan latar etnis, suku, agama, yang terjadi di berbagai belahan wilayah Indonesia pasca jatuhnya Soeharto, memberikan pembelajaran yang sangat bermakna tentang pentingnya penghargaan terhadap keberagaman. Kita sempat tersentak dan bertanyatanya karena selama ini dikenal dengan bangsa yang ramah, santun dan penuh kegotongroyongan. Mengapa demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini, mau tak mau kita harus sejenak menengok ke belakang. Pertama, kebijakankebijakan penyeragaman pada masa Orde Baru telah mematikan kemajemukan yang sesungguhnya merupakan kekayaan bangsa Indonesia (agama, adat istiadat, ideologi, kehidupan social keagamaan).
Kebijakan penyeragaman ini tidak lepas dari usaha pemerintah di masa itu untuk menjadikan budaya sebagai bentuk ideological state’s apparatus yang difungsikan sebagai alat hegemoni untuk mengontrol masyarakat sipil. Kedua, perdebatan dan diskusi akademis dan argumentatif yang berkaitan dengan isu SARA tidak diijinkan dan bahkan menjadi sesuatu yang tabu. Etnis China bahkan harus rela menutup berbagai artefak budaya yang mereka miliki sebagai akibat kebijakan pemerintahan di masa tersebut.
Padahal sejak awal berdirinya republik ini, sudah disadari benar oleh para bapak bangsa sebagai founding fathers bahwa bangsa ini sangat heterogen. Namun sayangnya perbedaanperbedaan ini selanjutnya tidak pernah dibicarakan, bahkan ditabukan, yang tersimpan sebagai prasangkaprasangka dan pada akhirnya menjadi bom waktu. Institusi pendidikan yang seharusnya berperan untuk mendialogkan, membentuk pribadi-pribadi yang menghargai keragaman, mempromosikan keragaman ini seringkali tanpa disadari justru mereproduksi kebijakan negara untuk homogenisasi, memperteguh perbedaan, prasangka dan pertentangan serta memperkuat identitasidentitas kelompok. Pada akhirnya pemahaman terhadap keragaman/kemajemukan bangsa tereduksi hanya dalam pajangan-pajangan kostum yang acapkali hilang pemaknaannya.

Reproduksi Antimultikultur Di Sekolah
Sampai saat ini, kita belum bisa berharap banyak terhadap institusi pendidikan untuk mengambil peran yang sesungguhnya karena sekolah telah tereduksi dikarenakan standar-standar mutu yang sangat mengagungkan kognisi. Proses pendidikan lebih banyak dimaknai sebagai proses transfer of knowledge, dan siswa lebih disiapkan untuk menjadi bagian dari masyarakat kapital/industri. Akhirnya siswa teraleniasi dari lingkungannya, menjadi manusia-manusia yang tidak memahami keragaman komunitas etnis maupun keberagamaannya. Idealnya fungsi penting pendidikan, seperti yang dinyatakan oleh Dr Abdul Munir Mulkhan (2002) bahwa fungsi penting pendidikan salah satunya adalah meningkatkan kemampuan seseorang agar bisa hidup sebagai warga negara, komunitas keagamaan atau etnis, hingga ketetanggaan dan kampung. Namun sayangnya peranperan institusi pendidikan untuk mempromosikan penghargaan terhadap kemajemukan ini mandeg, dan diabaikan dalam proses pembelajaran di sekolah. Memang, institusi pendidikan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik penguasa, sehingga proses-proses homogenisasi dan indoktrinasi dijalankan melalui sekolah sebagai salah satu state apparatus. Sekolah merupakan salah satu media untuk melakukan ideologisasi nilai-nilai sesuai dengan kepentingan politik dominan.
Banyak praktek-praktek di sekolah yang mengarah pada sikap-sikap yang meneguhkan prasangka dan perilaku anti pluralisme. Siswa belajar mengidentifikasi diri sebagai kelompok tertentu, untuk membedakan dengan kelompok yang lain sematamata didasarkan pada identitas-identitas primordial seperti keagamaan, etnis, suku.
Pembelajaran di sekolah terbawa juga dalam praktek-praktek di rumah. Saya ingat cerita teman saya ketika anaknya meminta bapaknya untuk memindah channel televisi dengan segera karena program ini bukan program yang sesuai dengan agama yang dianutnya. Perbedaan-perbedaan yang tidak substansial tersebut akhirnya akan memperkuat identitas sebagai in group dan out group. Merujuk pada Faucoult, bahwa telah terjadi proses eksklusi dan enklusi sebagai sebuah kelompok melalui materi-materi pembelajaran di kelas dan praktek- praktek di sekolah. Demikian halnya dengan prasangka-prasangka etnis, suku dan agama yang selama ini hidup dalam masyarakat tidak pernah mendapat tempat untuk didiskusikan secara akademis dan argumentatif di sekolah karena memang dianggap tabu. Padahal seringkali prasangka ini belum tentu benar karena memang prasangka (predujice) muncul berdasarkan keyakinan-keyakinan, kepercayaan, persaingan dan seringkali penuh emosi namun tidak disertai dengan bukti-bukti terlebih dahulu. Akhirnya siswa akan berperilaku terhadap kelompok lain sesuai dengan prasangka-prasangka yang sudah ada dan dinggap benar.
Praktek penandaan seperti ini akan membentuk sebuah pola oposisi biner (binary oposition) yang akan mempertentangkan antara diri kita (self) dengan pihak lain (the other). Konflik multikultur yang terjadi dalam sejarah bangsa ini selalu berawal dari pola oposisi biner yang sudah menjadi strukturalisme yang menjerumuskan bangsa tercinta ini ke dalam konflik multikultur sebagaimana yang terjadi saat meledak kerusuhan Mei 1998 yang mempertentangkan pribumi vs China, konflik di Sambas yang berawal dari oposisi biner antara Dayak vs Madura atau yang masih teringat di benak kita ketika Islam vs Kristen dipertentangkan dalam konflik Poso.

Multikultur Harus Dikelola
Berkaca pada pengalaman konflikkonflik horizontal, menguatnya identitas kelompok, terpendamnya prasangka-prasangka etnis, suku dan agama di Indonesia ini, menuntut institusi pendidikan untuk menjalankan fungsinya. Adanya Indonesia karena kemajemukan yang indah ini dan mempunyai citacita bersama sebagai bangsa Indonesia. Oleh karena itu institusi pendidikan yang merupakan ujung tombak proses pembelajaran seharusnya mempromosikan pentingnya pemahaman dan penghargaan terhadap kemajemukan ini. Sekolah harus mengajarkan dan sekaligus menumbuhkan semangat multikultur sebagai sebuah bangsa untuk siswa-siswanya.
Tumbuhnya semangat multikultur taken for granted, datang tiba-tiba namun harus diusahakan. Perbedaan yang ada harus dikelola karena tidak tiba-tiba dimiliki. Salah satu contohnya, dalam perjalanan saya untuk program Religion and Society di Temple University USA memberikan rujukan bahwa perpektif multikultur harus dikelola dan diciptakan. Di sana terdapat satu divisi khusus tentang pengembangan multikultur yang dikelola oleh universitas untuk mempertemukan budaya-budaya yang berbeda.
Oleh : Tri Hastuti Nur R (Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat)

KOMUNITAS ANAK MADYA INSANI



Komunitas Multikultur
Realistic, Respectif, Inovatif dan Kreatif

KAMI (Komunitas Anak Madya Insani) adalah salah satu unit program yang dicanangkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Madya Insani. Komunitas ini fokus dibidang pengembangan karakter anak yang salah satu tujuannya adalah meminimalisir disintegrasi baik yang bersifat lokal maupun nasional akibat provokasi lingkungan. KAMI juga menjadi satu-satunya komunitas di Kota Medan dengan landasan multikultural dan berfokus pada pendidikan karakter anak. Dengan membangun akhlak yang mulia berdasarkan peraturan dasar agama dan jiwa nasionalisme yang tinggi yang berpegang teguh pada pedoman pancasila, KAMI melakukan penetrasi pada pendidikan dan pelatihan bagi anak mulai dari usia 6 s.d 18 tahun dengan mengimplementasikan pendidikan multikulrural yang ditanamkan dalam karakter masing-masing anak.

Fenomena konflik multikultur dan separatisme menjadi perhatian khusus bagi KAMI. Munculnya gerakan-gerakan sporadis dan organisasi-organisasi ilegal yang dapat merusak integritas bangsa akan dinetralisir dengan centra komunitas ini memalui analisis yang berdasarkan rekomendasi para ahli dan pihak yang berwajib agar segala bentuk provokasi yang dapat membahayakan dan menjerumuskan anak kedalam organisasi atau kelompok-kelompok ilegal dapat segera dihindari sejak dini.

Dengan program pendidikan dan pelatihan yang bersifat meningkatkan minat dan bakat anak, KAMI bergerak dibidang pendidikan ekstrakurikuler seperti Seni Teater, Seni Puisi, Seni Musik, Jurnalistik, Komputer, Cinta Alam dan Sosialisme. Selain menjadikan sekretariat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Madya Insani sebagai centra kegiatan, KAMI juga akan membangun jaringan dengan organisasi sekolah, organisasi pemuda, komunitas anak dan beberapa komunitas remaja lainnya ditempat asalnya agar program pendidikan yang akan dijalankan dapat diikuti semua anak dalam jangkauan lokasi yang terdekat bagi mereka, tanpa harus berada di centra KAMI.

Dalam hal mempersatukan dan membangun generasi penerus bangsa yang lebih berakhlak dan berkarakter, KAMI tidak menjadi sebuah kelompok yang tertutup atau terbatas pada golongan tertentu saja. KAMI akan bekerjasama, merangkul dan menjalin jaringan dengan komunitas maupun organisani anak lainnya. Tidak hanya terbatas di Kota Medan, KAMI juga akan menjalankan visi dan misinya di 4 Kota lainnya di Sumatera Utara yaitu Binjai, Lubuk Pakam, Pematang Siantar dan Tebing Tinggi sebagai awal pergerakan. Selanjutnya, akan diperluas lagi dibeberapa lokasi diwilayah MADINA, Stabat, Pangkalan Berandan, Serdang Bedagai dan Tanjung Balai. Tidak hanya itu, jika berhasil membangun cita-citanya di Kota Medan, KAMI juga akan bergerak meluas dibeberapa Provinsi seperti Aceh, Sumatera Barat, Pekan Baru dan Sumatera Selatan yang pada tahap awal akan dilaksanakan di Provinsi Aceh yang memprioritaskan 5 Kota besar diwilayah pantai utara yaitu, Langsa, Lhokseumawe, Bireuen, Sigli dan Banda Aceh.

Komunitas Anak Madya Insani, salah satu komunitas anak dikota medan yang dipelopori oleh LSM Madya Insani mencoba untuk mengakomodir minat dan bakat anak-anak tanpa ada batasan pada golongan tertentu. Mulai dari anak-anak dari sekolah formal, nonformal, informal sampai pada anak-anak putus sekolah, mulai dari anak-anak yang berasal dari keluarga berada sampai anak-anak dari keluarga marginal.
Dan yang menjadi perhatian khusus adalah anak-anak jalanan yang memang secara nyata memiliki jiwa seni yang tinggi. KAMI akan mengembangkan minat dan bakat mereka, tidak hanya sebatas pelatihan atau sekedar pendampingan, tidak hanya disaat membutuhkan data atau saat ada acara, tidak pula hanya sebatas menyelesaikan sebuah program yang pada akhir pelaksanaanya membutuhkan sebuah laporan komplit untuk diserahkan sebaga Laporan Pertanggung Jawaban, KAMI lebih dari itu, berusaha membangun kerjasama dengan pihak-pihak yang berkepentingan agar anak-anak memiliki kejelasan menyangkut masa depan mereka. Penditribusian bakat ke perusahaan-perusahaan terkait, produksi hasil-hasil kreatifitas serta pemberdayaan diberbagai bidang yang bertujuan meningkatkan taraf hidup anak-anak jalanan ini.

Selain membangun minat dan bakat mereka, KAMI secara perlahan juga akan mencoba merubah imej negatif dari masyarakat pada anak jalanan yang dimulai dengan pembentukan karakter dan akhlak dari anak jalanan yang dilanjutkan dengan merubah pandangan masyarakat dengan maksud agar semua kalangan dapat lebih dihargai setidaknya, keberadaan dan kreatifitas mereka.


Oleh : Hafidz M, A.Md (Project Coordinator Madya Insani)