Sebuah Cerita dari Realita, Drs. Rustam Pakpahan, MA

TAK PERNAH MENYESAL PERNAH MENJADI ANAK JALANAN DAN KINI MENDEDIKASIKAN DIRI SEBAGAI AKTIFIS PEMERHATI ANAK JALANAN.

Drs. Rustam Pakpahan, MA, Pria kelahiran 20 September 1968, anak ke-3 dari 10 bersaudara ini adalah Kepala Pusat Penelitian Kebijakan dan Pemberdayaan SDM IAIN Sumatera Utara dan Peneliti di Pusat Studi Wanita (PSW) IAIN Sumatera Utara. Pria yang berpredikan pendidikan magister juga sering dijadikan referensi untuk beberapa penelitian menyangkut isu anak jalanan.
Bang Rustam, panggilan akrabnya, adalah sosok yang ramah dan santun. Pria ini memiliki pemikiran yang berdasarkan logika dan realita. Begitu juga halnya menyangkut dengan penilaiannya menyangkut anak jalanan. Sebagai salah seorang "mantan" anak jalanan, beliau memaparkan bahwa telah terjadi kesalahan dikalangan masyarakat dalam melihat anak jalanan yaitu benci dan kasihan dan hal inilah yang mengakibatkan munculnya beberapa upaya untuk menyingkirkan anak jalanan dari kota. "Padahal dengan upaya mengasihani dan membenci anak jalanan tidak membuat serta merta mereka bisa berubah" Ujar beliau di harian Jurnal Medan Edisi Minggu 11/9/2010. Selain itu beliau menambahkan, tanaman kaktus yang biasa hidup ditanah tandus belum tentu bisa hidup di tanah gembur dan subur. "Didunia jalanan, tidak ada kode moral yang harus ditaati. perlu ada proses transisi sebelum mengembalikan mereka kepada komunitas yang normatif, mereka harus dilihat sebagai korban, penanganan anak jalanan tidak bisa melalui kekerasan satpol PP. Keras beradu keras, anak jalanan jagonya".
Bang rustam yang pada masa mudanya tidak pernah berhenti berusaha dan berjibaku dengan pendidikannya sempat merasakan kerasnya kehidupan jalanan. Karena prestasi akademiknya disekolah dasar tempat asalnya di Kisaran cukup memuaskan sang ayah, beliau kemudian dibawa ke kota Medan dan dititipkan dirumah familinya di kota Medan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya. Saat berada dirumah namborunya yang sehari-hari bekerja sebagai penjual sandal dan taplak meja di Pasar Mercubuana, bang rustam sering membantu berjualan sepulang dari sekolah.
Disinilah awal mula bang rustam mulai terjerumus ke dalam hiruk pikuk dunia jalanan.
Beberapa pekerjaan yang biasanya dilakukan anak jalanan pernah dilakoninya. Mulai dengan menjual plastik kemasan, loper koran hingga menyemir sepatu. Kerasnya mencari lembaran rupiah sebagai anak jalanan sangat dirasakan olehnya. Persaingan antar anak jananan, intimidasi preman pasar sampai harus berhadapan dengan satpam restoran.
Aktifitasnya dijalanan ternyata berdampak pada prestasi akademiknya sampai pernah tinggal kelas saat berada ditingkat Madrasah Aliyah (setingkat SMA). Sang ayah pun merasa kecewa dan memboyongkan kembali ke kisaran dan kemudian beliau disekolah disalah satu sekolah yang dikelola ormas muhammadiah. Walaupun terlambat 1 tahun menyelesaikan sekolahnya, yang seharusnya selesai dalam 3 tahun, beliau kembali mendapatkan kepercayaan dari ayahnya yang kemudian mengirimkannya kembali ke Kota Medan untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi.
Setelah belajar dari pengalaman, kali ini beliau tidak menyianyiakan kesempatan untuk meraih ilmu di kota Medan. Beliau berhasil menyelesaikan pendidikannya di IAIN Sumatera Utara tahun 1992 dan kemudian melanjutkan program pasca sarjana di Universitas Leiden program Islamic Studies. Beliau juga aktif di organisani kampus yang menurut pengakuannya, organisasi inilah yang mengubah hidupnya dan bisa mengobati kekecewaan orang tuanya.
Bang rustam tidak pernah merasa menyesal menjadi anak jalanan karena menurutnya banyak pengalaman yang dia dapatkan dari aktifitasnya semasa muda tersebut. "Anak jalanan lebih bisa bertahan hidup mandiri. Kehidupan keras dijalanan memaksanya bertahan dan mencari solusi hidup sendiri" ujarnya.
Dan saat ini beliau menjadi salah satu aktifis pemerhati anak jalanan. Beberapa penelitian dan rekomendasi dari beliau sering dijadikan referensi beberapa lembaga dalam penanganan anak jalanan. Pemikiran-pemikiran yang dituangkan beliau terhadap anak jalanan ini berdasarkan logika dan realita serta pengalaman hidupnya pribadi.
 
Oleh : Hafidz M, A.Md ( Project Coordinator Madya Insani)
 

0 Komentar:

Post a Comment